Dengan wajah tegak dan tatapan mata penuh percaya diri, Tukiyem berkata kepada Paijo
"Aku sangat cerdas.
Dan tidak ada orang yang memahamimu selain aku."
"Yah, aku akui itu.." Jawab Paijo
Lalu, sambung Tukiyem
"Yang tidak kamu tau, sebenarnya aku tidak pernah benar-benar mencintaimu.
Aku hanya mempermainkanmu.
Karena aku tau kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa ketika mengetahui hal ini.
Dan lihat, aku benar selama ini."
Mendengar itu, Paijo menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menatap Tukiyem sambil berkata.
"Baik, cukup, jangan diteruskan."
Ketika menatap Tukiyem tadi, perasaan Paijo memberi sinyal, bahwa Tukiyem sungguh-sungguh, tidak sedang bercanda.
Lalu dengan nada penuh harap dan ekspresi wajah yang masih belum percaya, Paijo melanjutkan kata-katanya
"Telah aku lakukan segala yang aku bisa untuk membuatmu bahagia!
Dan aku masih mencintaimu!"
"Aku membencimu Jo, Paijo.
Dari dulu juga aku membencimu."
Pada saat itu, seolah-olah Paijo merasa tiba-tiba tubuhnya ambles ke dalam jurang, dan dia mencoba berusaha meraih apa saja agar tubuhnya tidak remuk di dasar jurang, bahkan dalam keputus-asaannya seolah dia berusaha menggenggam rumput kering di tebing jurang, yang ia tau tidak akan dapat menyelamatkannya.
"Jangan berkata begitu
Kamu tidak sungguh-sungguh dengan semua perkataanmu itu, kan Yem?"
"Tidak!
Aku justeru sangat bersungguh-sungguh
Aku TIDAK PERNAH mencintaimu
Kamu tidak lebih dari seorang pecundang !!"
Paijo terjingkat mendengar kata-kata Tukiyem itu. Matanya yang tadi menatap penuh harap dalam ketidak percayaan, kini sayu dalam keyakinan. Ucapan dan sikap Tukiyem seketika menikam dengan brutal perasaan cintanya. Cintanya mati pada saat itu juga. Mati mengenaskan !Sebagai gantinya, kini tumbuh dengan cepat perasaan yang lain. Perasaan kecewa, yang dalam waktu singkat benar-benar telah menguasainya.
"Sungguh, kamu perempuan jahat yang suka memanipulasi orang
Kau permainkan aku, kau manfaatkan aku
Lalu kau campakkan aku!
Aku benci kamu!
Aku benci kamu!
Aku benci ini semua..!"
Tukiyem tahu betul, Paijo tidak akan berbuat apa-apa setelah mendengar pengakuannya.
Itu yang membuat Tukiyem membenci Paijo.
Laki-laki lemah!
Lalu dengan wajah agak mendongak dan diiringi langkah-langkah tegap.
Tukiyem meninggalkan Paijo yang sedang meringkuk lunglai di lorong diantara ruang-ruang kelas di sekolah SMU mereka, yang pada saat itu sedang ramai oleh lalu-lalang siswa-siswi yang tengah pulang sekolah.