Saturday, March 21, 2015

Perjalanan Sia-sia

Aku tidak sedang berusaha menerjemahkan makna penyesalan
Aku sedang mengurai kenang-kenangan
Tiba-tiba kau seperti perjalanan sia-sia
Tidak ada satupun dari sekian banyak tafsir kesetiaan
Yang mewakili keberadaanmu

Di belantara rindu yang pernah melukis wajahmu
Aku menemukan bangkai mimpiku
Penuh luka
Di atas hamparan kekecewaan yang tak berujung

Sepi Dari Rahasia

Tak seharusnya kamu takut

Menahan diri

Diremas prasangka

Bila hatimu bersih

Aku seperti sebuah buku yang terbuka
Bisa kau baca dari bagian manapun yang kau suka

Sepi dari rahasia

Tuesday, March 17, 2015

Duhai Jiwa

Duhai jiwa
Apa yang terjadi dengan dirimu ?
Apakah engkau akan menuntunku menuju nirwana
Tempat segala keindahan tercipta
Tempat segala kenikmatan dapat dirasa
Tempat dimana semua angan-angan menjadi nyata
Atau justeru engkau akan menjerumuskan diriku dalam lembah derita yang pedihnya tak terkira ?

Duhai penghias mimpiku
Detak dalam debar jantungku
Andai engkau tau rahasia hatiku, tentu
engkau akan merasakan getaran
seperti yang aku rasa

Waha jiwa yang segala sampan
asmara akan selalu rindu berlabuh di
hatimu
Kepada siapa engkau ijinkan biduk
kasih menetap di hatimu ?

Duhai cinta
Jika rasa yang ada dalam jiwa ini merupakan kehendakmu
Aku pasrah menerima
Aku yakin
Dalam cinta
Kepedihan dan keindahan tiada beda.

Saturday, March 14, 2015

Sekali Lagi Aku Menatapmu

sekali lagi
aku menatapmu
tembus pandang
tanpa raga hilang rupa
tanda tanya bergelayutan
wahai
remang nian gelisah ini

ketika aku ingin berjalan
kau mengajakku duduk
sementara aku duduk
kau menyingkir
aku tak beranjak
kau tetap berjalan
aku atau kau yang menjauh itu

kekasih ku
dalam sepi
alangkah dekatmu kepadaku
belum kupastikan benar
jadi apamu aku sebenarnya


ah,
cinta hanyalah ungkapan kasar
dari rasa setetes embun keabadian yang
menyentuh lidah hasrat manusiawi

C I N T A II


Kau ciptakan untukku bangunan harapan yang sedemikian tinggi
Kemudian kau jatuhkan aku serendah-rendahnya

Kau beri aku sayap
Setelah aku terbang hampir menyentuh langit
Serta-merta kau renggut sayap-sayap itu

Kau katakan
Itu semua kau lakukan agar aku dapat merasakan kedahsyatanmu
Agar tiada penghalang lagi antara aku, kau dan keabadian

O, cinta
Seandainya sejak awal kau mengatakan ini semua
Sampai mati pun aku rela tak mengenal kamu

Begitu Dekat Dirimu


Tiap kali aku mendatangimu
Romantisme cinta, gelora asmara dan kemesraan
Yang sengaja aku bawa buat mu
Seolah bersembunyi di tempat yang tidak mungkin bisa kau temukan

Begitu dekat dirimu
Hingga ku rasakan hangat nafas mu
Bohong jika aku menganggap itu biasa saja
Takut ku lah yang menahan sayang ku kepadamu

Aku tahu
Menipu diri adalah musuh abadi kebahagiaan
Menangisi masa lalu adalah pupuk kesengsaraan tak berkesudahan

Aku mau diriku yang dulu
Meski hanya setengahnya
Bukan di sini
Bukan dengan mu

Percayalah yang kamu cari tidak ada padaku

Teruskanlah Mimpimu

teruskanlah mimpimu
sembunyikan semua yang mestinya kau katakan
kamu tidak menipu siapapun kecuali dirimu sendiri

dengan mudah kau mengarang bermacam alasan
untuk menutupi kebohonganmu
bahkan bersumpah atas nama Tuhan
demi membendung rasa bersalahmu
sungguh kamu tidak tahu akibat apa yang kau perbuat

seandainya saja engkau jujur
sewaktu menerima sisi terburuk ku
kamu akan mendapatkan sisi terbaikku

seandainya kau benar benar pernah
sungguh sungguh mencinta
kamu akan tahu betapa aku membutuhkan mu

entah apa dari dirimu
yang begitu kuat
meneguhkan cintaku padamu

teruskanlah mimpimu
hingga tak ada lagi yang bisa kuharap darimu


Namun Ada Yang Terus Saja Terpendam

Sekali lagi aku ingin mencinta
Pada wanita sebening embun
Sejujur pagi
Bukan pada perempuan yang mengunyah kutuk alam
Di bibirnya rahmat tersesat menjadi laknat

Namun
Ada yang terus saja terpendam
Tak terjaring
Bahkan dengan kerinduan
Hingga dapat kucerna nikmatnya
sepi

Lalu,
Jika semua itu dari sunyiku sendiri
Artinya aku bersikeras, bahkan untuk sesuatu yang tak ada
Mendekat pada apa yang jauh
Meniti pada setitik cahaya
Yang padam sebelum jauh kakiku
melangkah.

Friday, March 13, 2015

Rahasia Senja

Inilah rahasia senja
Sisa usia memungut sia-sia bayang-bayang
Aku menghentikan keasyikanku
Aku berhenti menjaring isyarat-isyaratmu
Yang bercanda diantara angin yang menderu dan awan yang bergemuruh

Semakin jarang aku memberimu ciuman
Umurku berkurang
Telah aku terima kegagalan dan hujatan sebagai cinta-kasih

Aku berpuisi
Jika sedih
Aku berpuisi

Tepislah cintaku
Dan esok pagi aku akan bangun di tengah taman sunyi
Sendiri
Yang kusayangi selalu pergi

Tuesday, March 10, 2015

Menangislah

Kenapa kamu tampak begitu sedih ?
Airmata yang berusaha kau tahan sekuat yang kau bisa
bergulir juga di pipi lembut mu
Datanglah kepada ku, tak usah ragu
Jangan malu menangis di hadapan ku

Izinkan kulihat dirimu seluruhnya
jangan khawatir aku juga pernah terpuruk sedalam itu
Ketika malam-malam mu terasa begitu mencekam
Sementara pagi yang kau nanti tak berwarna dan hambar

Tak perlu mencurahkan apa yang ada di hatimu
Sandarkan kepalamu di pundakku
Basahi dadaku dengan air matamu

Tak kan kubiarkan seorang pun membuat mu terluka

Jangan Biarkan Matahari Menimpaku

Semua gambaran tentang diriku
berubah menjadi hitam putih
Ku semakin lelah
Dan waktu serasa terhenti
Membeku pada jalur kehidupanku

Tak dapat kutulis
Kata-kata romantis yang tepat
Tapi, cobalah
Lihatlah diriku
Mungkin dengan demikian
Setidaknya bisa kau terka apa yang sedang aku rasa

Jangan biarkan matahari menimpaku
Jangan campakkan diriku
Hanya karena kau mengira aku akan melukaimu
Sedangkan luka yang ku derita ini
Hanya bisa disembuhkan oleh kasih-sayang mu...

Aku jatuh
Tersungkur
Terjerembab
Dalam liang pekat
Dimana cahaya adalah sisi suram bilik hati
Kegembiraan adalah lolong panjang pedih perih
Selamatkan aku sebelum aku benar-benar menjadi bagian dari mereka

Aku telah berusaha merubah cara hidupku
Kukepal tabahku
Meskipun
Walau segigih apapun
Aku mencari diriku
Yang kutemui selalu pantulan orang lain

Tapi ketika aku menemuimu
kamu salah membaca maksudku
Kau tutup pintumu
Membiarkanku buta dan bisu
Kamu tidak tahu
Tidak pernah tahu
Betapa aku sudah berusaha

Kugenggam erat sisa kepingan kehidupanmu bersamaku
Di sisi dimana aku tidak lagi punya arti

Tak kan kulepas
Karena kehilangan segalanya
Adalah seperti tertimpa matahari

Berapa Usiaku Sekarang

Kupandangi cermin
Berapa usiaku sekarang ?
Aku mencoba menipu diri sendiri

Tak pernah ku sangka
Masih bisa merasakan gejolak hati
Semuanya rasanya menggelepar
Oleh gempa perasaan yang ganjil
Perasaan ini begitu asing

Perasaan rindu
Yang penah mati dalam keputus asaan yang panjang
Kini meraih puncaknya

Diam-diam
Aku berharap
Dia akan seketika jatuh cinta kepadaku
Dengan cara tersendiri 

Kupandangi cermin sekali lagi
Sebaiknya kuhayati perasaan yang sangat ajaib kosongnya
Di sisa umurku ini.

Monday, March 9, 2015

Kau Bilang

Kau bilang,
Kau cinta kepada hujan.
Ketika hujan turun kau lindungi dirimu dengan payung.

Kau bilang.
Kau cinta Matahari.
Ketika Matahari bersinar terang benderang, engkau cepat-cepat mencari tempat teduh.

Kau bilang.
Kau cinta angin.
Tapi di saat angin berhembus kencang, serta merta kau tutup pintu dan jendela rumahmu.

Sekarang engkau berdiri tepat di hadapanku.
Kau bilang.
Kau cinta kepadaku.
Seketika itu merinding seluruh bulu kudukku.
Kupejamkan mataku, berusaha mengusir gejolak di dadaku.
Kemudian aku berlari sejauh mungkin untuk menghindarimu.
Sebelum nantinya kutanggung beban derita patah hati.

Karenamu.
Selanjutnya, dalam permainan asmara.
Aku selalu memilih menepi di sisi yang aman.
Dengan demikian aku tak akan terluka.