Kau bilang,
Kau cinta kepada hujan.
Ketika hujan turun kau lindungi dirimu dengan payung.
Kau bilang.
Kau cinta Matahari.
Ketika Matahari bersinar terang benderang, engkau cepat-cepat mencari tempat teduh.
Kau bilang.
Kau cinta angin.
Tapi di saat angin berhembus kencang, serta merta kau tutup pintu dan jendela rumahmu.
Sekarang engkau berdiri tepat di hadapanku.
Kau bilang.
Kau cinta kepadaku.
Seketika itu merinding seluruh bulu kudukku.
Kupejamkan mataku, berusaha mengusir gejolak di dadaku.
Kemudian aku berlari sejauh mungkin untuk menghindarimu.
Sebelum nantinya kutanggung beban derita patah hati.
Karenamu.
Selanjutnya, dalam permainan asmara.
Aku selalu memilih menepi di sisi yang aman.
Dengan demikian aku tak akan terluka.
Kau cinta kepada hujan.
Ketika hujan turun kau lindungi dirimu dengan payung.
Kau bilang.
Kau cinta Matahari.
Ketika Matahari bersinar terang benderang, engkau cepat-cepat mencari tempat teduh.
Kau bilang.
Kau cinta angin.
Tapi di saat angin berhembus kencang, serta merta kau tutup pintu dan jendela rumahmu.
Sekarang engkau berdiri tepat di hadapanku.
Kau bilang.
Kau cinta kepadaku.
Seketika itu merinding seluruh bulu kudukku.
Kupejamkan mataku, berusaha mengusir gejolak di dadaku.
Kemudian aku berlari sejauh mungkin untuk menghindarimu.
Sebelum nantinya kutanggung beban derita patah hati.
Karenamu.
Selanjutnya, dalam permainan asmara.
Aku selalu memilih menepi di sisi yang aman.
Dengan demikian aku tak akan terluka.
No comments:
Post a Comment