Sepuluh tahun yang lalu ia menyuruh istrinya untuk menunggunya di ujung jalan itu.
Sejak itu ia tak pernah kembali lagi
Dan sang istri masih mematuhinya
Hingga...
Tanpa disengaja bertemulah mereka
Pandangan mereka bertumbukan
Dan bintang-bintang di langit
Memberi kodrat lain pada pertemuan pandang seperti itu
Apalah arti sepuluh tahun di bumi bagi
bintang-bintang di ruang angkasa ?
Tanpa disengaja
Tangan mereka bersentuhan
Sentuhan yang dengan paksa membuka pintu besi berkarat ke masa lampau
Tangan mereka erat saling berpegangan
Keduanya tak tahu mau mengungsikan ke mana bahagia mereka malam ini ?
Ke mana ?
Ya, Tuhan !
Sesudah sepuluh tahun
Ia masih juga belum bisa menjawab
pertanyaan semacam itu
Dirinya adalah justru tanya itu sendiri
Ada yang berbeda dari istrinya
Dia hampir yakin tahu apa itu
Tapi berusaha ia tolak
Dengan alasan yang paling tidak masuk akal sekalipun
Istrinya tersenyum
Sejenak ia menatapi suaminya baik-baik
Matanya menyatakan penjungkir-balikan suatu harapan yang hampir berhasil dibangunnya
Sinar gaib memancar dari kedua bola matanya
Sinar dari penderitaan selama (dan
pembalasan untuk) sepuluh tahun
Senyum di bibirnya sejak itu memiliki kepastian
Berpegangan tangan
Mereka pergi dari pojok jalan itu
Langkah-langkahnya doyong
Diseret oleh langkah-langkah pasti istrinya
Tiba-tiba
Istrinya berhenti
"Tunggu dulu!" katanya
"Ada apa?"
"Tarifku tiga ratus ribu rupiah sampai tengah malam. Sampai pagi, dobel....."
Seperti kena sambar halilintar di siang bolong
Tubuhnya menjadi kejang dan kelu
Mukanya pucat pasi.
Jantungnya tertahan, geraham-gerahamnya merekat oleh ludah kental
Pandangannya pudar,
Makin pudar
Di depannya yang nampak adalah
segumpal bayang saja
Pelan-pelan bayang itu menjadi
getar-getar kecil, makin lama makin banyak
Napasnya.
Tubuhnya
Alam bawah sadarnya
Kembali dari titik nadir hampa
Naik ke titik zenith kesadarannya
Akhirnya, ia dapat memulihkan kembali
Garis-garis profil wajah istrinya
Wajah yang tersenyum menantang
Tersenyum menang.
No comments:
Post a Comment