Monday, October 26, 2015

AUBREY

Seorang gadis berjalan tak tentu arah.
Jika engaku memperhatikan dengan seksama,
dia sebelumnya adalah seorang gadis yang cantik jelita.
Tapi kini...
Sepasang mata yang biasanya bersinar-sinar penuh gairah hidup itu.
Tampak merah dan agak membengkak,
muka yang biasanya berseri dengan kedua pipi kemerahan dan segar, seperti setangkai bunga yang sedang mekar,
kini menjadi pucat dan layu.
Bibir yang bia­sanya selalu kemerahan dan membasah itu, yang siap melontarkan senyum manis, bahkan selalu kelihatan akan senyum,
kini kelihatan kering dan tetap berusaha untuk tersenyum.
Kadang-kadang bibir itu tergetar kalau tangis melanda hatinya.
Air matanya sudah mengering,
sumbernya sudah hampir kehabisan karena terlampau banyak dia menangis.

Aku kenal pun belum dengan gadis itu,
tahu nama­nya pun belum, akan tetapi kenapa aku sudah menaruh perhatian sedemikian rupa sam­pai aku melamun dan kelihatan muram.
Seolah aku bisa merasakan seluruh kesedihan yang luar biasa itu.
Aku merasa sedih melihat keadaannya.

Aku memberinya nama Aubrey
Bukan nama biasa tapi juga nama yang tidak begitu istimewa.

Siapa yang patut disalahkan ?
Untuk cinta yang sudah tak punya diri
Untuk hati yang tidak mampu lagi meraba irama kasih sayang
Seperti sebuah melodi indah yang dapat ditirukan oleh siapa saja,
Hanya ditirukan saja dan kemudian dilupakan begitu saja.
Seperti orang yang memahami terlalu cepat tapi tidak pernah belajar
Demikianlah pada umumnya orang-orang memandangmu Aubrey.

Mustahil bagimu untuk memperoleh cinta kasih mereka
Demikian hina engkau dalam pandangan mereka
Namun engkau tak pernah menyerah
Kau pertahankan kemurnian cinta sejati yang kau tahu telah menjadi benda asing di mata mereka
Walau untuk itu harus kau tanggung derita panjang tiada henti
Tetapi akan tetap engkau pertahankan kemurniannya
Hingga tak ada tersisa lagi harapan pada tiap bintang di angkasa

Oh, Aubrey
Ketahuilah
Dunia ini tidak diciptakan untuk seorang seindah kamu

No comments:

Post a Comment