Tuesday, October 27, 2015

TUJUH PINTU LAGI

Sore itu hujan lebat
Basah kuyup seluruh kepala hingga telapak kakiku
Persis seperti tikus habis kecemplung comberan
Aku berdiri di depan pintu rumahnya
Mencoba meminta maaf darinya

Hingga hampir subuh hujan tak mengurangi kederasannya sama sekali
Hingga hampir subuh aku tetap berada di tempatku
Tak bergerak, menunggu dia muncul
Hingga hampir subuh akhirnya dia membuka jendela kamarnya
Dia berkata dengan lantang mengalahkan bunyi derasnya hujan :

"Lihatlah dirimu,
kamu keliatan begitu tolol saat ini,
berdiri di depan rumahku memohon maaf dariku.
Sudahlah, jangan memasang wajah memelas seperti itu.
kamu keliatan tambah jelek.
Jangan kau mengumbar kata maaf sementara kamu tidak pernah sungguh-sungguh.
Kamu hanya minta maaf jika kebobrokanmu ketahuan.
Jika kamu ingin melihat wujud dari kata kecewa
Pandanglah aku disaat kamu terus mengulang kesalahan yang sama
Pandanglah aku disaat aku memergokimu sedang mencumbui ular betina itu.
Tapi kuakui,
selama ini permainan sandiwaramu sungguh hebat
Jika kamu dipanggung
pasti kamu mendapatkan tepuk tangan yang gegap gempita dari para penonton
Tapi sekarang pertunjukanmu sudah usai
Tirai panggung sudah diturunkan
Membungkuklah dihadapan para penonton,
tanda pertunjukkan telah usai "

Aku tak akan beringsut seinchi-pun sampai dia menerima permintaan maafku
Setelah itu
Aku akan menghilang tanpa meninggalkan setapak jejak pun
Menuju rumah pacar-pacarku yang lain

Aku masih harus berdiri di depan 7 (tujuh) pintu rumah lagi
sambil menghiba memohon maaf...

No comments:

Post a Comment