Sundari bercermin
Wajahnya bersungut-sungut
Tatapan matanya demikian tajam
Hampir-hampir retak cermin itu
karenanya.
"Selamanya,"
- Katanya -
Aku tidak akan sudi
menjadi metamorfosa sejarah
Tercipta dari tulang rusuk laki-laki
Kenapa Tuhan begitu sayang pada laki-laki
Sehingga diciptakan lebih dulu ?
Kenapa Adam dan Hawa tidak diciptakan
bersamaan sekaligus ?
Kun fayakun, maka jadilah !
Ini tidak adil namanya !
Selamanya,
Aku tidak akan mau berusaha
menjadi pujaan laki-laki.
Enak saja,
kita yang susah-susah
merawat tubuh
merawat kulit
merawat rambut
Lalu laki-laki yang menikmatinya
Seperti serigala kelaparan
Auuuu.....auuuuu
Mengendus lalu
Menerkam
Mangsa empuknya
Manaku sudi ?!
Dan
Wahai para pejuang kesetaraan gender
Lanjutnya
Kalian tidak mampu berbuat banyak
Kalian hanya dijadikan
semacam maskot
Dikenang dengan cara
Bersanggul
Berkebaya
Berjarik ketat
Menampakkan bentuk bokong
Egal-egol
Karnaval keliling kelurahan
dan foto-foto
Jadi tontonan yang menarik
bagi laki-laki
O, no
Not me !
" Hmmmm.... Orasi yang hebat !"
Bisiknya, kepada diri sendiri.
Lalu,
Sundari tersenyum
Belum pernah ia tersenyum semenang ini
Senyuman yang tersungging
Dengan salah satu sudut
bibir miring ke atas
Persis kayak senyuman Clint Eastwood
waktu menang duel adu tembak
Dalam film cowboy "The Good, The Bad And The Ugly"
Setelah puas dengan gaya senyum cowboy-nya
Sundari pun bersenandung.
"Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun adakala pria tak berdaya...."
Tiba-tiba senandungnya terhenti
Eit, tunggu dulu.
Sergahnya
Salah tuh lirik lagunya
Harusnya begini nih
" ..... Namun selalu saja pria tak berdaya. Tekuk lutut di sudut kerling wanita....."
Dia meralat lirik lagu itu.
Kemudian dia tertawa genit
" Hihihihihi.......
Laki-laki........... laki-laki
Kadang kalian tolol juga
Hihihihihi "
Hingga nampak jajaran gigi putihnya
yang miji timun
Kembali
Sundari menatap dirinya
Wajah di cermin itu
Kini tersenyum
Manis sekali
Sungguh menarik hati
Dicermatinya dirinya
Dia memang secantik Dewi
Lalu, ia melenggang pergi
(begitu saja)
Menemui Mas. Parno, pacarnya
Yang sejak tadi, dengan kesabaran tingkat tinggi
Menungguinya di teras rumah.
" Sundari........ Sundari,
Seandainya wanita bersungguh-sungguh
dalam memerankan lakonnya sebagai wanita
se-asli Siti Hawa.
Tak perlu kalian mencari kesetaraan gender.
Ini bukan jaman penjajahan lagi.
Belanda sudah lama pulang kampung.
Siti Nurbaya telah menjadi dongeng
pengantar tidur.
Dan sadarkah kalian, wahai para Sundari.
Kalian tak perlu berbuat lebih dari kadar
yang telah ditetapkan.
Karena
Sesungguhnyalah
Bukan laki-laki yang berkuasa
atas perempuan
Tapi justeru sebaliknya.
Dari jaman Nabi Adam masih berada
di syurga juga sudah begitu
Iblis, yang bapaknya syaithon,
tak sanggup membujuk Adam
Tapi Hawa sanggup dengan mudah
meluluhkan pendirian sang Adam "
Hingga terciptalah dosa pertama yang
dilakukan oleh manusia.
Wajahnya bersungut-sungut
Tatapan matanya demikian tajam
Hampir-hampir retak cermin itu
karenanya.
"Selamanya,"
- Katanya -
Aku tidak akan sudi
menjadi metamorfosa sejarah
Tercipta dari tulang rusuk laki-laki
Kenapa Tuhan begitu sayang pada laki-laki
Sehingga diciptakan lebih dulu ?
Kenapa Adam dan Hawa tidak diciptakan
bersamaan sekaligus ?
Kun fayakun, maka jadilah !
Ini tidak adil namanya !
Selamanya,
Aku tidak akan mau berusaha
menjadi pujaan laki-laki.
Enak saja,
kita yang susah-susah
merawat tubuh
merawat kulit
merawat rambut
Lalu laki-laki yang menikmatinya
Seperti serigala kelaparan
Auuuu.....auuuuu
Mengendus lalu
Menerkam
Mangsa empuknya
Manaku sudi ?!
Dan
Wahai para pejuang kesetaraan gender
Lanjutnya
Kalian tidak mampu berbuat banyak
Kalian hanya dijadikan
semacam maskot
Dikenang dengan cara
Bersanggul
Berkebaya
Berjarik ketat
Menampakkan bentuk bokong
Egal-egol
Karnaval keliling kelurahan
dan foto-foto
Jadi tontonan yang menarik
bagi laki-laki
O, no
Not me !
" Hmmmm.... Orasi yang hebat !"
Bisiknya, kepada diri sendiri.
Lalu,
Sundari tersenyum
Belum pernah ia tersenyum semenang ini
Senyuman yang tersungging
Dengan salah satu sudut
bibir miring ke atas
Persis kayak senyuman Clint Eastwood
waktu menang duel adu tembak
Dalam film cowboy "The Good, The Bad And The Ugly"
Setelah puas dengan gaya senyum cowboy-nya
Sundari pun bersenandung.
"Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun adakala pria tak berdaya...."
Tiba-tiba senandungnya terhenti
Eit, tunggu dulu.
Sergahnya
Salah tuh lirik lagunya
Harusnya begini nih
" ..... Namun selalu saja pria tak berdaya. Tekuk lutut di sudut kerling wanita....."
Dia meralat lirik lagu itu.
Kemudian dia tertawa genit
" Hihihihihi.......
Laki-laki........... laki-laki
Kadang kalian tolol juga
Hihihihihi "
Hingga nampak jajaran gigi putihnya
yang miji timun
Kembali
Sundari menatap dirinya
Wajah di cermin itu
Kini tersenyum
Manis sekali
Sungguh menarik hati
Dicermatinya dirinya
Dia memang secantik Dewi
Lalu, ia melenggang pergi
(begitu saja)
Menemui Mas. Parno, pacarnya
Yang sejak tadi, dengan kesabaran tingkat tinggi
Menungguinya di teras rumah.
" Sundari........ Sundari,
Seandainya wanita bersungguh-sungguh
dalam memerankan lakonnya sebagai wanita
se-asli Siti Hawa.
Tak perlu kalian mencari kesetaraan gender.
Ini bukan jaman penjajahan lagi.
Belanda sudah lama pulang kampung.
Siti Nurbaya telah menjadi dongeng
pengantar tidur.
Dan sadarkah kalian, wahai para Sundari.
Kalian tak perlu berbuat lebih dari kadar
yang telah ditetapkan.
Karena
Sesungguhnyalah
Bukan laki-laki yang berkuasa
atas perempuan
Tapi justeru sebaliknya.
Dari jaman Nabi Adam masih berada
di syurga juga sudah begitu
Iblis, yang bapaknya syaithon,
tak sanggup membujuk Adam
Tapi Hawa sanggup dengan mudah
meluluhkan pendirian sang Adam "
Hingga terciptalah dosa pertama yang
dilakukan oleh manusia.
No comments:
Post a Comment