Siti Kejora
Kecantikannya ibarat
Bintang paling bercahaya di Timur
Yang terbit saat malam akan berubah menjadi pagi
Bintang yang mulia
Selalu hadir mendahului matahari
Siti Kejora
Berdri di depan cermin
Kulitnya kuning langsat
Tubuhnya lenjang dengan pinggang yang gampang dipeluk
Matanya lebar, bundar dan hitam jelita diteduhi bulu mata yang lentik
Bibirnya sukar dilukiskan keindahannya
Mengundang kagum semua orang
Apalagi dikala bibir itu tersenyum, maka giginya yang putih menjadi cerlang cemerlang
Gadis itu masih saja merasa ada sesuatu yang tak beres
Hidungnya yang pesek itu
Sesungguhnya, kalau boleh aku katakan
Hidungnya itu mungil
Sama sekali tidak pesek
Siti Kejora
Kini ia duduk berhadapan denganku
Tanpa kata
Tiada bosannya kupandangi tiap detail wajahnya
Dari ujung rambut hingga ujung dagu
Ada kekaguman yang tiada habisnya mengguyur hati, perasaan, jiwa dan pikiranku
Semua indraku seakan terhipnotis agar hanya tertuju pada keindahan di depanku saja Kecantikan murni ciptaan Illahi
Alami tanpa campur tangan kosmetik
Telah ia miliki sejak ia dilahirkan
Tiba-tiba...
Bukan kepalang terkejutku
Mata bening itu menggenang air mata
Tanpa kata dia beranjak meninggalkanku
Berlari
Tanpa menoleh lagi
Akhirnya aku tau
Dia merasa hidungnya pesek
Dia merasa aku hanya memperhatikan hidungnya
Dengan pandangan mengejek
Ah, Kejora
Seandainya saat itu kau dapat menjadi aku
Lima menit saja
Akan kau rasakan betapa dahsyat gelora di dadaku ketika menghayati pesona di dirimu
Kau tak pernah mencoba benar-benar menatap mataku di kala sedang mencari matamu
Cobalah resapi tatapanku itu
Kau akan merasakan, hangatnya akan membuat pipimu merona bersemu merah
Karena tatapan itu mengatakan :
Engkau adalah bidadariku yang berhidung mungil
Kecantikannya ibarat
Bintang paling bercahaya di Timur
Yang terbit saat malam akan berubah menjadi pagi
Bintang yang mulia
Selalu hadir mendahului matahari
Siti Kejora
Berdri di depan cermin
Kulitnya kuning langsat
Tubuhnya lenjang dengan pinggang yang gampang dipeluk
Matanya lebar, bundar dan hitam jelita diteduhi bulu mata yang lentik
Bibirnya sukar dilukiskan keindahannya
Mengundang kagum semua orang
Apalagi dikala bibir itu tersenyum, maka giginya yang putih menjadi cerlang cemerlang
Gadis itu masih saja merasa ada sesuatu yang tak beres
Hidungnya yang pesek itu
Sesungguhnya, kalau boleh aku katakan
Hidungnya itu mungil
Sama sekali tidak pesek
Siti Kejora
Kini ia duduk berhadapan denganku
Tanpa kata
Tiada bosannya kupandangi tiap detail wajahnya
Dari ujung rambut hingga ujung dagu
Ada kekaguman yang tiada habisnya mengguyur hati, perasaan, jiwa dan pikiranku
Semua indraku seakan terhipnotis agar hanya tertuju pada keindahan di depanku saja Kecantikan murni ciptaan Illahi
Alami tanpa campur tangan kosmetik
Telah ia miliki sejak ia dilahirkan
Tiba-tiba...
Bukan kepalang terkejutku
Mata bening itu menggenang air mata
Tanpa kata dia beranjak meninggalkanku
Berlari
Tanpa menoleh lagi
Akhirnya aku tau
Dia merasa hidungnya pesek
Dia merasa aku hanya memperhatikan hidungnya
Dengan pandangan mengejek
Ah, Kejora
Seandainya saat itu kau dapat menjadi aku
Lima menit saja
Akan kau rasakan betapa dahsyat gelora di dadaku ketika menghayati pesona di dirimu
Kau tak pernah mencoba benar-benar menatap mataku di kala sedang mencari matamu
Cobalah resapi tatapanku itu
Kau akan merasakan, hangatnya akan membuat pipimu merona bersemu merah
Karena tatapan itu mengatakan :
Engkau adalah bidadariku yang berhidung mungil
No comments:
Post a Comment