Pagi itu, Yuanita berjalan cepat melewati gang-gang padat penduduk yang seolah tak ada habisnya. Dia bergegas karena takut terlambat tiba ke tempat kerjanya. Ketika dia melewati Gang Kelinci , dan ketika dia menoleh ke dalam gang itu, nun jauh di sana, dia melihat sesosok tubuh seorang pemuda yang berjalan santai menuju ke jalan besar, menuju ke arahnya. Yuanita menghentikan langkahnya, dia mengenal pemuda itu. "Ryan..." bisiknya.
Memang pemuda itu adalah Ryan Pasukadewa, temen SMU nya dahulu, yang tergila-gila padanya, yang pernah menyatakan cinta kepadanya dengan amat serius dan sungguh-sungguh, yang dia tolak pada saat itu juga, yang kemudian sakit selama berminggu-minggu.
Yuanita menghentikan langkahnya, dan memanggil pemuda itu
"Ryan !"
Ryan masih agak jauh, sehingga dia belum mengenali siapa cewek yang memanggilnya itu, meskipun matanya dipicingkan sampai keluar air matanya, tetap saja dia belum bisa melihat jelas, yang dia tahu bayangan itu adalah seorang perempuan. Kemudian dia mempercepat langkahnya, setelah jarak tinggal lima meter dari cewek yang memanggilnya itu, kedua matanya masih terpicing, lamat-lamat jelaslah pandangannya.
"Yuanita..." bisiknya
Wajahnya berseri-seri, jantungnya berdebar, dia berusaha tersenyum semanis mungkin, namun bibirnya tak mau bekerja sama, alih-alih terbentuk senyum manis di bibir Ryan, malah tercipta wajah yang menyeringai bloon.
"Ryan, apa kabar kamu, duh, lama banget kita tak pernah bertemu." Yuanita berbicara dengan wajah berseri, sambil tersenyum, senyuman yang teramat manis, senyuman yang pernah menggedor rongga dadaynya hingga jantungnya bergerak kalang-kabut, mata itu.... bagai bintang timur, tampak bersinar lembut menghunjam jantungnya. Dan senyum itu....ah
Serrrrr seketika Jantung Ryan membuat loncatan salto di dalam rongga dadanya dan agaknya terbanting kembali dalam keadaan terbalik karena debar jantung itu kini sampai terdengar jelas di telinganya......saking kerasnya hingga seolah Yuanita pun dapat mendengarnya dengan jelas detak jantungnya.
Kedua bibir Ryan tiba-tiba terasa kering, dia berusaha menelan ludah dengan susah payah, hingga jakunnya terlihat naik turun.
Dua puluh tujuh detik kemudian, barulah Ryan dapat sedikit menguasai dirinya, dengan wajah masih menyeringai dia menjawab sapaan Yuanita tadi
"Yuan....Yuanita...benarkah ini engkau...a...aku tidak sedang bermimpi kan...?"
"hahaha..." Yuanita tertawa lepas, sehingga tampaklah deretan gigi putihnya bak mutiara yang berjajar rapi.
Saat itu juga, tanpa dapat dicegah lagi, jantung Ryan mencelat, terpelanting tinggi dan ketika turun membuat gerakan bersalto sebanyak lima kali, gerakan ini dilakukan agar jantung itu tidak terbanting terbalik seperti tadi, kemudian koprol ndelosor di bawah kerling mata Yuanita.
"Ryan....Ryan, masa kamu tidak mengenali aku lagi, aku tambah jelek kah ? Ini aku Yuanita Aromatherapy temen SMU mu. Aihhhh..... Ryan, kamu sekarang tampak berbeda banget, kini kamu tampak lebih dewasa dan gagah, dan..... Hemmmm.... tampan, hihihihi...."
Dapat saudara pembaca bayangkan, bagaiman reaksi Ryan pada saat itu.
Dia tepar,
pingsan,
karena jantungnya telah mengobrak-abrik rongga dadanya, dia tak kuat menerima serangan sedahsyat itu,
dia semaput !
Ryan.... Ryan.... Ckckckck, kamu ini orang apa kerupuk sih?
Rapuh amat!
Memang pemuda itu adalah Ryan Pasukadewa, temen SMU nya dahulu, yang tergila-gila padanya, yang pernah menyatakan cinta kepadanya dengan amat serius dan sungguh-sungguh, yang dia tolak pada saat itu juga, yang kemudian sakit selama berminggu-minggu.
Yuanita menghentikan langkahnya, dan memanggil pemuda itu
"Ryan !"
Ryan masih agak jauh, sehingga dia belum mengenali siapa cewek yang memanggilnya itu, meskipun matanya dipicingkan sampai keluar air matanya, tetap saja dia belum bisa melihat jelas, yang dia tahu bayangan itu adalah seorang perempuan. Kemudian dia mempercepat langkahnya, setelah jarak tinggal lima meter dari cewek yang memanggilnya itu, kedua matanya masih terpicing, lamat-lamat jelaslah pandangannya.
"Yuanita..." bisiknya
Wajahnya berseri-seri, jantungnya berdebar, dia berusaha tersenyum semanis mungkin, namun bibirnya tak mau bekerja sama, alih-alih terbentuk senyum manis di bibir Ryan, malah tercipta wajah yang menyeringai bloon.
"Ryan, apa kabar kamu, duh, lama banget kita tak pernah bertemu." Yuanita berbicara dengan wajah berseri, sambil tersenyum, senyuman yang teramat manis, senyuman yang pernah menggedor rongga dadaynya hingga jantungnya bergerak kalang-kabut, mata itu.... bagai bintang timur, tampak bersinar lembut menghunjam jantungnya. Dan senyum itu....ah
Serrrrr seketika Jantung Ryan membuat loncatan salto di dalam rongga dadanya dan agaknya terbanting kembali dalam keadaan terbalik karena debar jantung itu kini sampai terdengar jelas di telinganya......saking kerasnya hingga seolah Yuanita pun dapat mendengarnya dengan jelas detak jantungnya.
Kedua bibir Ryan tiba-tiba terasa kering, dia berusaha menelan ludah dengan susah payah, hingga jakunnya terlihat naik turun.
Dua puluh tujuh detik kemudian, barulah Ryan dapat sedikit menguasai dirinya, dengan wajah masih menyeringai dia menjawab sapaan Yuanita tadi
"Yuan....Yuanita...benarkah ini engkau...a...aku tidak sedang bermimpi kan...?"
"hahaha..." Yuanita tertawa lepas, sehingga tampaklah deretan gigi putihnya bak mutiara yang berjajar rapi.
Saat itu juga, tanpa dapat dicegah lagi, jantung Ryan mencelat, terpelanting tinggi dan ketika turun membuat gerakan bersalto sebanyak lima kali, gerakan ini dilakukan agar jantung itu tidak terbanting terbalik seperti tadi, kemudian koprol ndelosor di bawah kerling mata Yuanita.
"Ryan....Ryan, masa kamu tidak mengenali aku lagi, aku tambah jelek kah ? Ini aku Yuanita Aromatherapy temen SMU mu. Aihhhh..... Ryan, kamu sekarang tampak berbeda banget, kini kamu tampak lebih dewasa dan gagah, dan..... Hemmmm.... tampan, hihihihi...."
Dapat saudara pembaca bayangkan, bagaiman reaksi Ryan pada saat itu.
Dia tepar,
pingsan,
karena jantungnya telah mengobrak-abrik rongga dadanya, dia tak kuat menerima serangan sedahsyat itu,
dia semaput !
Ryan.... Ryan.... Ckckckck, kamu ini orang apa kerupuk sih?
Rapuh amat!
seruni oh seruni
ReplyDeleteiya, itu aslinya "Seruni Oh Seruni" (that is you)
DeleteNanti aku ganti deh :)
seruni oh seruni
ReplyDelete